Dok. Peni Mufitasari

Memiliki Citarasa Khas Gurih, Renyah dan Manis Kripik Rengginang Ibu Usrin Desa Talun di Cari-Cari Pembeli

Diposting pada

Regginang atau lebih di kenal dengan sebutan Kripik oleh warga lokal di daerah saya merupakan camilan yang berbahan dasar beras ketan ini memiliki citarasa renyah, manis dan gurih.

Kuliner tradisional kripik ini masih sejenis dengan krupuk dan dapat ditemukan di kabupaten Tuban termasuk kalau anda berkunjung di kampung halaman saya Desa Talun, Kecamatan Montong, masih bisa kita jumpai penggrajin kripik. Salah satunya bernama Ibu Usrin warga RT 13 desa setempat.

Sejak usia 20 tahun, saat ia masih muda dulu Ibu Usrin, sudah membuat panganan ini hingga sampai sekarang masih di gemari. Karena rasanya yang renyah, gurih dan manis.

Biasanya Rengginang atau keripik Ibu Usrin, juga banyak di jumpai di acara – acara hajatan warga sekitar dan luar desa juga di pasar – pasar tradisional.

Ibu Usrin, membuat Kripik setiap hari nya bisa menghabiskan paling sedikit 5 kilo sampai 10 kilo beras ketan dan bisa lebih banyak lagi membuatnya jika ada pesanan.

Kripik yang sudah jadi setelah melalui proses ia jual dipasar tradisional sekitar tempat tinggalnya maupun dijualnya kepada warga  yang jauh – jauh hari sudah memesanya.

Cara membuat Kripik terbilang cukup mudah yakni, beras ketan di kukus (didang bahasa jawa) lalu kalau sudah matang ketan dibentuk bundar atau sesuai keinginan tapi kebanyakan bentuknya bundar, sesudah itu kemudian dijemur dibawah terik matahari sampai kering terus digoreng.

Kripik buatan Ibu Usrin ini selain harganya murah memiliki citarasa gurih yang khas, testurnya renyah dan ada juga rasanya yang manis. Sehingga dagangan kripik yang di bawa kepasar selalu habis.

Bagi anda sedang melewati atau berkunjung di Desa Talun jangan lupa untuk mampir dan mencicipi kelezatan Kripik yang bercitarasa gurih, renyah dan manis tiada duanya.

Demikian ulasan mengenai kuliner tradisional Rengginang atau Kripik khas Desa Talun. Apabila ada salah kata dalam penulisan saya sebagai penulis memohon maaf. (Reyvan).

Dokumentasi : Peni Mufitasari (Sekdes Talun)

Editor  : Reyvan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *