Warga Desa Talun berkumpul di Balai Desa Talun, Kecamatan Montong menghadiri acara Koleman.

Kearifan Lokal, Tradisi Koleman Warga Desa Talun, Kecamatan Montong

Diposting pada

Desa Talun – Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, terkenal dengan Asem Pelangi sebagai ikon tujuan tempat wisatanya banyak menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah untuk berswafoto atau sekedar santai.

Namun, di balik keindahanya Asem Pelangi yang hidup ratusan tahun ini, terdapat tradisi kearifan lokal “Koleman” di lakukan turun temurun oleh warga yang tinggal di Desa Setempat.

Koleman (Syukuran Padi) adapun warga menyebutnya Ningkepi Pari merupakan salah satu tradisi leluhur yang ada di desa tersebut, hingga kini masih di adakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT agar di berikan panen yang melimpah dan wujud nyata melestarikan budaya.

Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahunnya oleh warga di Balai Desa bersama Pemerintah Desa (Pemdes) saat musim tanam padi, setelah padi sekitar berumur 2 bulan lebih di hitung dari masa pertama tanam.

Di hari yang sudah di jadwalkan Minggu, 03/02/2019. Warga yang mempunyai lahan sawah atau tanaman padi berduyun – duyun menuju balai desa dengan membawa makanan yang nantikan di buat syukuran bersama – sama.

Foto Mbah Mudin Mujib sapaan akrabnya , saat memukul Kentongan (Alat Komunikasi Jaman Dulu ).

Karena warga ada yang belum segera berkumpul. Di jaman sudah moderen seperti sekarang ini, Mbah Modin Mujib Sapaan akrabnya mempunyai cara unik untuk mengumpulkan warga dengan memukul kentongan ( Alat Komunikasi Jaman Dulu ) beberapa kali agar semua warga segera berkumpul karena acara akan segera di mulai.

Setelah warga di rasa sudah berkumpul semua acaranya di mulai di awali sambutan Bapak Pj. Kepala Desa Talun dan di lanjut sambutan Bapak Sekretaris Kecamatan Montong (Sekcam) dan di tutup dengan doa.

Pj. Kepala Desa Talun Bapak Sarwan, SH dalam sambutanya menggatakan, kalau kegiatan koleman ini bagus sebagai sarana silaturrahmi antar warga untuk terciptanya sebuah kerukunan hidup damai dan tentram,” Tuturnya.

“Ia menambahkan, berharap tradisi kearifan lokal ini perlu di pertahankan sebagai wujud melestarikan budaya dan di tahun – tahun berikutnya dapat di selenggarkan lebih meriah lagi agar dapat menarik wisatawan berbagai daerah berkunjung ke Desa Talun,” Imbuhnya.

Setelah selesai semua sambutan – sambutan kemudian acara di lanjut berdoa bersama. Selesai doa makanan yang di bawa masing – masing warga di makan bersama – sama ada pula saling tukar makanan dan ada juga di bawa pulang.

Sesampainya dirumah sebagai nasi di bawa, dari masing – masing warga kembali ke sawah. Lalu nasi tersebut di taburkan ke sawah yang ada tanaman padinya, adapun maksud dan tujuanya saya kurang faham.

Demikian ulasan mengenai kearifan lokal tradisi Koleman Desa Talun. Saya sebagai penulis memohon maaf kepada semua fihak apabila, ada salah kata dalam penulisan. Semoga informasi yang sampaikan bermanfaat.(Reyvan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *